Ia sibuk mematut diri di depan cermin persegi berukuran 15 x 15 centimeter. Sebelah tangan memegang cermin, dan sebelahnya lagi meraba perlahan permukaan wajahnya. Lama, lama sekali ia termenung menatap pantulan yang terlihat dari cermin. Mengutuk pelan jerawat yang bermunculan dan warna kulitnya yang gelap. Satu yang selalu ia sadari, ia tidak cantik, juga tidak manis. Ia merasa rendah diri tiap mengingat hal terbut. Minder, mungkin minder merupakan kata yang tepat untuk nya.
'Iya, aku minder' jawab nya lirih, terdengar getir dan bergetar, 'aku tidak secantik kawan kawan ku' lanjutnya.
Banyak hal yang berkecamuk didalam pikiran nya, hal yang hanya dapat berputar putar didalam kepalanya tanpa dapat ia ungkapkan.
'Jaman sekarang, baik doang itu nggak cukup, ujung ujungnya juga harus cantik' serunya. Lagi lagi terdengar nada rendah diri dari suaranya.
'Aku tidak memiliki apapun, apa yang bisa ku banggakan?' lanjut suara lirik tak percaya diri itu masih sambil menatap crmin di depan nya.
'Aku ingin menjadi cantik, aku ingin dia dengan bangga menggandengku, maksudku, bukan nya dia tidak senang dengan rupaku sekarang, akan tetapi, bilasaja aku lebih cantik, mungkin dia akan lebih senang'
'Tapi, bukankah lebih bahagia bila seseorang mencintaimu apa adanya? suara sumbang di pikiran nya berseru.
Ia terdiam, termangu akan pikiran nya yang telah melayang layang. Cukup sudah.
Lelah dengan keluh kesah tak berujung, di singkirkan lah cermin itu dari hadapan nya. Tanpa cermin itu, kepercayaan dirinya mulai terkumpul, tanpa harus mengingat semua yang telah iya keluhan, terkadang ia tak peduli, saat tak berhadapan dengan cermin itulah ketidak kepedulian nya muncul.
Ia pun kembali kepada realita yang terhampar didepan nya.
Keseharian yang terdiri dari cerita cerita ga seberapa, yang di share di sebuah blog. WARNING!! Yang mau baca siapin sekardus pil penghilang rasa jenuh
Sabtu, 27 Oktober 2012
Sabtu, 05 Mei 2012
Second Option
Selalu. Iya, selalu jadi second option bagi nya, sedangkan dia selalu jadi yang 'first' di dalam skala prioritas gue. Gue lagi mau berkeluh kesah, entah kepada siapa, hingga akhirnya blog ini lah yang menjadi sasaran empuk bagi kekesalan gue.
Capek! Iya, capek. Disaat ia berkata, 'Kerumah ya' senyum lebar mengembang di bibir gue, muka berseri membayangkan betapa seru nya ketololan kami bila telah bertemu. Tapi, selalu saja ia datang disaat hri mulai berganti. Dan gue dengan setia menunggu kedatangan nya.
Kenapa second option? Karena ia akan kerumah bila ia sedang ada urusan diluar dan berfikiran, 'sekalian main ah' tidak pernah berniat dari awal ingin bertemu, selalu saja menjadi second option, dengan kata lain, adalah cadangan.
Hingga akhirnya pada suatu malam, gue tertidur tak dapat menahan kntuk, ia kerumah dan merasa kesal karena tidak aja jawaban dari si empu rumah. Yap, dia marah.
Kamis, 19 April 2012
Aku melakukan suatu kesalahan terbesar. Iya sangat besar, sehingga membuatku lemah. Aku lemah dan mengalah. Hanya bisa tersenyum kecut melihat semuanya berjalan seperti ini. Menyesali dan menikmati kesalahan yang telah terjadi. Gampang saja orang berkata 'Nasi telah menjadi bubur' tapi apakah menghadapi ini segampang 'Nasi telah menjadi bubur'?
Ngomong ngomong, apakah jatuh cinta dan mencintai itu salah? Iya kesalahan yang ku maksud adalah aku telah jatuh cinta. Memang tidak salah, hanya saja....... Ah aku bingung menjelaskan nya disini.
Kalian bisa menjugde ku adalah seorang yang munafik, pendusta, atau orang yg telah menjilat ludahnya sendiri. Terserah kalian. Aku sendiri merasa seorang pembual besar. Aku belum siap menceritakan nya di blog yang tidak seberapa ini. Aku belum siap mempermalukan diri sendiri, tapi aku belum lega. Aku ingin menceritakan hal ini kepada seseorang yang dapat ku percaya, tapi siapa? Dengan egois aku membuang sahabatku, dengan hati perih sahabatku meninggalkan ku. Aku lemah, aku benci telah merelakan hatiku untuk mencintainya.
A.F
Ngomong ngomong, apakah jatuh cinta dan mencintai itu salah? Iya kesalahan yang ku maksud adalah aku telah jatuh cinta. Memang tidak salah, hanya saja....... Ah aku bingung menjelaskan nya disini.
Kalian bisa menjugde ku adalah seorang yang munafik, pendusta, atau orang yg telah menjilat ludahnya sendiri. Terserah kalian. Aku sendiri merasa seorang pembual besar. Aku belum siap menceritakan nya di blog yang tidak seberapa ini. Aku belum siap mempermalukan diri sendiri, tapi aku belum lega. Aku ingin menceritakan hal ini kepada seseorang yang dapat ku percaya, tapi siapa? Dengan egois aku membuang sahabatku, dengan hati perih sahabatku meninggalkan ku. Aku lemah, aku benci telah merelakan hatiku untuk mencintainya.
A.F
Langganan:
Postingan (Atom)