Ia sibuk mematut diri di depan cermin persegi berukuran 15 x 15 centimeter. Sebelah tangan memegang cermin, dan sebelahnya lagi meraba perlahan permukaan wajahnya. Lama, lama sekali ia termenung menatap pantulan yang terlihat dari cermin. Mengutuk pelan jerawat yang bermunculan dan warna kulitnya yang gelap. Satu yang selalu ia sadari, ia tidak cantik, juga tidak manis. Ia merasa rendah diri tiap mengingat hal terbut. Minder, mungkin minder merupakan kata yang tepat untuk nya.
'Iya, aku minder' jawab nya lirih, terdengar getir dan bergetar, 'aku tidak secantik kawan kawan ku' lanjutnya.
Banyak hal yang berkecamuk didalam pikiran nya, hal yang hanya dapat berputar putar didalam kepalanya tanpa dapat ia ungkapkan.
'Jaman sekarang, baik doang itu nggak cukup, ujung ujungnya juga harus cantik' serunya. Lagi lagi terdengar nada rendah diri dari suaranya.
'Aku tidak memiliki apapun, apa yang bisa ku banggakan?' lanjut suara lirik tak percaya diri itu masih sambil menatap crmin di depan nya.
'Aku ingin menjadi cantik, aku ingin dia dengan bangga menggandengku, maksudku, bukan nya dia tidak senang dengan rupaku sekarang, akan tetapi, bilasaja aku lebih cantik, mungkin dia akan lebih senang'
'Tapi, bukankah lebih bahagia bila seseorang mencintaimu apa adanya? suara sumbang di pikiran nya berseru.
Ia terdiam, termangu akan pikiran nya yang telah melayang layang. Cukup sudah.
Lelah dengan keluh kesah tak berujung, di singkirkan lah cermin itu dari hadapan nya. Tanpa cermin itu, kepercayaan dirinya mulai terkumpul, tanpa harus mengingat semua yang telah iya keluhan, terkadang ia tak peduli, saat tak berhadapan dengan cermin itulah ketidak kepedulian nya muncul.
Ia pun kembali kepada realita yang terhampar didepan nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar